Tujuan Pelayanan Bimbingan di Sekolah Nonformal.
Agar pelaksanaan jalur pendidikan nonformal berjalan secara
ideal maka salah satunya adalah melakukan bimbingan dan konseling yang
dilakukan oleh konselor atau guru BK. Mengapa dalam jalur pendidikan nonformal
membutuhkan proses bimbingan konseling dan guru BK/konselor karena BK di jalur
pendidikan nonformal membantu dan membimbing peserta didik untuk memahami,
mengenal, dan menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif, untuk
dapat berperan secara dinamis dalam masa depan yang hendak dicapainya serta
membantu peserta didik untuk mempunyai kemampuan menginternalisasi nilai-nilai
yang terkandung dalam tugas tugas perkembangan yang harus dikuasainya.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka dapat dilakukan dengan
melakukan pelayanan bimbingan konseling seperti :
membantu untuk merencanakan penyelesaian studi, karir, dan
masa depannya
membantu mengoptimalkan potensi dalam diri peserta didik
membantu untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan
pendidikan, dan masyarakat
membantu mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi oleh
peserta didik.
Jenis Bimbingan di Sekolah Formal
Istilah jenis bimbingan menunjuk pada bimbingan
permasalahan,terutama mengenai belajar di sekolah, atau terutama mengenai
jabatan atau pekerjaan atau terutama mengenai pribadi murid sendiri.
Masing-masing jenis bimbingan akan dibahas dibawah ini.
Vocational Guidance
Vocational guidance ialah bimbingan dalam memilih lapangan
pekerjaan atau jabatan atau profesi, dalam mempersiapkan diri untuk memasuki
lapangan itu dan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dalam bidang
pekerjaan tertentu. Istilah bahasa indonesia yang pasti untuk jenis bimbingan
ini kiranya tidak ada ; bahasa ini kerap dipakai “bimbingan jabatan” atau
‘’bimbingan karir”.
Education Guidance
Education guidance ialah bimbingan dalam hal menemukan cara
belajar yang tepat, dalam mengatasi kesukaran mengenai belajar, dan dalam
memilih jenis / jurusan sekolah lanjutan yang sesuai. Khusus dalam memilih
sekolah lanjutan “bimbingan belajar’’ ini berhubungan erat dengan ‘’bimbingan
jabatan”. Bahwa belajar di sekolah itu sesuatu yang penting kiranya tidak perlu
di buktikan; kegagalan dalam belajar dapat menimbulkan frustasi dan ketegangan.
Personal –Social Guidance
Personal –Social Guidance ialah bimbingan dalam menghadapi
dan mengatasi kesulitan dalam diri sendiri; bila kesulitan tertentu berlangsung
terus dan tidak mendapat penyelesaiannya terancamlah kebahagiaan hidup, malah
akan timbul gangguan mental. Tergolong disini juga kesukaran yang timbul dalam
pergaulan dengan orang lain (pergaulan sosial), karna kesukaran semacam ini
biasanya dirasakan dan dihayati sebagai kesulitan pribadi. Perlunya jenis
bimbingan ini kiranya tidak perlunya di buktikan; setiap manusia, muda dan tua,
tahu dari pengalaman sendiri bagaimana rasa hatinya, bila masalah tertentu tidak
dibereskan. Menemui kesekuran-kesukaran sudah menjadi ‘’nasib’’ manusia; makin
bertambah umur, semakin banyak pula soal yang harus dihadapi. Yang penting
bukanlah kenyataan timbul suatu masalah, melainkan bagaimana sikap dan tindakan
dalam menghadapi masalah tersebut.
Kedudukan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Formal
Kedudukan bimbingan dan konseling tertuang dalam Sistem
Pendidikan di Indonesia, antara lain :
UU No. 2 tahun 1989 bab I pasal 1 ayat 1 yang menyatakan
bahwa :
“Pendidikan adalah usaha sadar menyiapkan peserta didik
melalui bimbingan dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”
PP No. 28 untuk SD dan PP No. 29 untuk SMP dan SMA tahun
1990 Bab X pasal 25 ayat 1 yang menyatakan :
“Bimbingan adalah bantuan peserta didik untuk memahami diri,
mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”.
“Bimbingan dilaksanakan oleh guru pembimbing”.
UU No. 20 tahun 2003 bab I pasal 1 ayat 6
“Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi
sebagai guru, dosen, dan konselor, widyaiswara, pamong belajar, fasilitator dan
sebutan lain sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam
menyelenggarakan pendidikan”
Dari undang-undang tersebut, jelaslah bahwa bimbingan dan
konseling tidak sekedar tempelan saja. Layanan bimbingan dan konseling
mempunyai posisi dan peran yang cukup penting dan strategis. Bimbingan dan
konseling berperan untuk memberikan layanan kepada siswa agar dapat berkembang
secara optimal melalui proses pembelajaran secara efektif.
Untuk mencapai perkembangan optimal siswa, sesuai dengan
tujuan institusional, lembaga pendidikan pada dasarnya membina tiga usaha pokok
yaitu :
Pengelolahan administrasi sekolah
Pengembangan pemahaman dan pengetahuan, nilai dan sikap,
serta ketrampilan melalui program kegiatan intrakurikuler dan kokulikuler.
Pelayanan khusus kepada siswa dalam berbagai bidang yang
membulatkan pendidikan siswa dan menunjang kesejahteraan siswa, seperti
pengelolahan kegiatan ekstrakulikuler, pengadaan koprasi sekolah, pengadaan
warung sekolah, pelayanan kesehatan, pelayanan perumahan, pengadaan
perpustakaan sekolah, pelayanan kerohanian, pembinaan OSIS dan pelayanan
bimbingan.
Seiring dengan pembinaan tiga usaha pokok tersebut di atas,
dibedakan bidang dalam pendidikan sekolah, yang mempunyai fungsi pokok
sendiri-sendiri, namun ketiganya menopang tujuan institusional, yaitu
perkembangan optimal bagi siswa. Ketiga bidang itu adalah :
Bidang administrasi dan supervisi yang membawahi :
Bidang pengajaran
Bidang bimbingan siswa
Pemetaan layanan BK seperti yang telah dijelaskan,
menampilkan dengan jelas kesejajaran antara posisi layanan BK yang memandirikan
dengan layanan manajemen pendidikan dan layanan pembelajaran yang dibingkai
oleh kurikulum khusus sistem persekolahan sebagai bentuk kelembagaan dalam
jalur pendidikan formal. Wilayah bimbingan dan konseling yang memandirikan
menjadi tanggung jawab konselor.
Pelayanan bimbingan dan konseling mampu memberikan sumbangan
yang sangat berarti terhadap pengajaran, misal proses belajar mengajar siswa
akan lebih efektif jika siswa terbebas dari masalah-masalah yang dapat
mengganggu proses belajarnya. Pembebasan masalah tersebut dapat dilakukan melalui
pelayanan bimbingan dan konseling. Materi layanan bimbingan dan konseling dapat
dimanfaatkan oleh guru untuk penyesuaian pengajaran dengan individualitas
siswa.
BK juga meberikan sumbangan yang sangat berarti terhadap
administrasi dan supervisi, misalnya dengan kaitannya dalam penyusunan
kurikulum, pengembangan program-program pengajaran, pengambilan kebijakan yang
tepat akan menciptakan iklim yang benar-benar menunjang bagi pemenuhan
kebutuhan perkembangan siswa.
Begitu pula sebaliknya, bidang pengajaran, manajemen, dan
supervisi memberikan sumbangan besar bagi pelayanan bimbingan dan konseling.
Jika ketiganya berjalan dengan baik, maka akan mencegah timbulnya masalah pada
siswa juga sebagai wahana pengentasan masalah-masalah siswa.
Fungsi Bimbingan di
Sekolah Formal
Untuk dapat memahami fungsi bimbingan disekolah menengah
perlu dibedakan antara bidang pimpinan sekolah (administrration), pengajaran
(instruction) dan bimbingan (guidance), yang merupakan salah satu diantara
pupil / student personnel services. Menurut fungsinya masing-masing ketiga
bidang ini ada petugasnya sendiri-sediri, yaitu kepala sekolah beserta staf
pimpinan, para guru dan para ahli bimbingan. Semua petugas itu adalah pedidik
tetapi mereka menunaikan tugas yang sesuai dengan fungsi bidangnya
masing-masing. Ketiga bidang itu tidak berada pada taraf yang sama.
Fungsi utama bimbingan di sekolah formal adalah membantu
murid dalam masalah-masalah pribadi dan sosial yang berhubugan dengan
pendidikan dan pengajaran atau penempatan, dan juga menjadi perantara dari
dalam hubungannya dengan para guru maupun tenaga administrasi. Selain itu
bimbingan juga membantu kepala sekolah beserta stafnya di dalam
menyelenggarakan kesejahteraan sekolah.
Bimbingan dan konseling memiliki fungsi dan posisi kunci
dalam pendidikan di sekolah, yaitu sebagai pendamping fungsi utama sekolah
dalam bidang pengajaran dan perkembangan intelektual siswa dalam bidang
menangani ihwal sisi sosial pribadi siswa. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa
bimbingan dan konseling memiliki fungsi memberikan bantuan kepada siswa dalam
rangka memperlancar pencapaian tujuan pendidikan, yaitu manusia seutuhnya
(tercapainya segala aspek kehidupan manusia).
Rochma Natawidjaja (1990: 16)
Uman Suherman (2008) menyatakan bahwa secara umum, fungsi
bimbingan dan konseling dapat diuraikan sebagai berikut.
Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling
membantu konseli (klien) agar memiliki pemahaman terhadap potensi dirinya dan
lingkungan (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Konseli diharapkan mampu
mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan menyesuaikan dirinya dengan
lingkungan.
Fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya
konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi
dan berupaya untuk mencegahnya supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui
fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara
menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan
bimbingan kelompok.
Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling
yang sifatnya lebih proaktif . konselor berupaya untuk menciptakan lingkungan
yang nyaman dan kondusif. Konselor dan guru atau staf sekolah bekerja sama
membentuk tim kerja merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara
berkesinambungan membantu konseli mencapai tugas perkembangannya. Teknik
bimbingan yang dapat digunakan di sini adalah pelayanan informasi, tutorial,
diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan
karyawisata.
Fungsi penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling
yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan
kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi,
sosial, belajar maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling dan
remedial teaching.
Fungsi penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling
dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan, atau program
studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat,
bakat, keahlian, dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi
ini, konselor bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar
lembaga pendidikan.
Fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana
pendidikan, kepala sekolah/ madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk
menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat,
kemampuan, dan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai
konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan
konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi sekolah/madrasah,
memilih metode dan proses pembelajaran
maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling
dalam membantu konseli untuk menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya
secara dinamis dan konstruktif.
Fungsi perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk
membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berpikir,
berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi
(memberikan perlakuan) terhadap konsli supaya memiliki pola berpikir yang
sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat menghantarkan
mereka pada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
Fungsi fasilitas, memberikan kemudahan kepada konseli dalam
mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang
dalam seluruh aspek dalam diri konseli.
Fungsi pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling
untuk membantu supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif
yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar
terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktifitas
diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik,
rekreatif, dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli.
Sedangkan fungsi bimbingan di sekolah menurut W.S Winkel
(1991 : 85-86) adalah :
Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu
siswa mendapat program studi yang sesuai baginya dalam rangka kurikulum
pengajaran yang disediakan di sekolah, memilih kegiatan ekstrakulikuler yang cocok
baginya selama menjadi peserta didik di sekolah yang bersangkutan, menentukan
program studi lanjutan yang sesuai baginya setelah tamat dan merencanakan
bidang pekerjaan yang cocok baginya di masa mendatang.
Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan yang membantu
siswa menemukan cara menempatkan diri secara tepat dalam berbagai keadaan dan
situasi yang dihadapi.
Fungsi pengadapatasian, yaitu fungsi bimbingan sebagai nara
sumber bagi tenaga-tenaga pendidikan yang lain di sekolah, khususnya pemimpin
sekolah dan staf pengajar, dalam hal mengarahkan kegiatan-kegiatan pendidikan
dan pengajaran supaya sesuai dengan kebutuhan para siswa.
Fungsi-fungsi diatas diwujudkan melalui diselenggarakannya
berbagai jenis layanan dan kegiatan untuk mencapai hasil sebagaimana terkandung
di dalam masing-masing fungsi itu. Setiap layanan dan kegiatan bimbingan dan
konseling yang dilaksanakan harus secara lansung kepada satu atau lebih
tugas-tugas tesebut agar hasil-hasil yang hendak dicapainya secara jelas dapat
diidentifikasi.
Bimbingan dan konseling di sekolah dapat mendampingi siswa
dalam hal :
Dalam perkembangan belajar di sekolah (perkembangan akademis).
Mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan
yang terbuka bagi mereka, sekarang maupun kelak.
Menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, serta
menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu.
Mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar di sekolah
dan terlalu mempersukar hubungan dengan orang lain, atau yang mengaburkan
cita-cita hidup. BK dapat diposisikan secara tegas untuk mewujudkan prinsip
keseimbangan. Lembaga ini menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa untuk
datang membuka diri tanpa waswas akan privacy-nya. Di sana menjadi tempat
setiap persoalan diadukan, setiap problem dibantu untuk diuraikan, sekaligus
setiap kebanggaan diri diteguhkan. Bahkan orangtua siswa dapat mengambil
manfaat dari pelayanan bimbingan di sekolah, sejauh mereka dapat ditolong untuk
lebih mengerti akan anak mereka.
Pembuatan program BK di sekolah formal
Pengertian Program BK
Pelayanan bimbingan di lembaga pendidikan formal terlaksana
dengan mengadakan sejumlah kegiatan bimbingan. Kegiatan itu terselenggarakan
dalam rangka suatu program bimbingan yaitu suatu rangkaian kegiatan bimbingan
yang terencana, terorganisasi dan terkoordinasi selama periode waktu tertentu
misalnya satu tahun ajaran. Suatu program bimbingan dapat disusun dengan
berdasarkan pada suatu kerangka berpikir tertentu, yang dapat mempengaruhi pola
dasar yang dipegang dalam mengatur kegiatan-kegiatan bimbingan yang diadakan
oleh berbagai pihak. (Winkel 1990 : 105). Sedangkan menurut (Purwoko, 2008 : 18)
Program bimbingan dan konseling disekolah ialah sejumlah kegiatan bimbingan dan
konseling yang direncanakan oleh sekolah, dan dilaksanakan dalam jangka waktu
tertentu.
Dengan kata lain Program bimbingan dan konseling adalah
kegiatan layanan dan kegiatan pendukung
yang akan dilaksanakan pada periode tertentu.
Tujuan Program Bimbingan dan Konseling
Menurut Dewa Ketut Sukardi Dan Desak Made Sumiati (2005:3)
tujuan program bimbingan dan konseling disekolah terdiri dari tujuan umum, dan
tujuan khusus. Tujuan dimaksud adalah sebagai berikut :
Tujuan Umum Program Bimbingan
agar siswa dapar memperkembangkan pengertian dan pemahaman
diri dalam kemajuannya disekolah
agar siswa dapat memperkembangkan pengatahuan tetang dunia
kerja, kesempatan kerja serta rasa tanggung jawab dalam memilih suatu
kesempatan kerja tertentu.
agar siswa dapat memperkembangkan kemampuan untuk memilih
dan mempertemukan pengetahuan tentang dirinya dengan informasi tentang
kesempatan yang secara tepat dan bertanggung jawab.
agar siswa dapat mewujudkan penghargaan terhadap kepentingan
dan harga diri orang lain.
Tujuan Khusus Program Bimbingan
agar siswa memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulitan
dalam memahami dirinya sendiri.
agar siswa memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulotan
dalam memahami lingkungannya.
agar siswa memiliki kemampuan dalam mengatasi kesulitan
dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
agar para siswa memiliki kemampuan untuk mengastasi dan
menyalurkan potensi-potensi yang dimilikinya dalam pendidikan dan lapangan
kerja secara tepat.
No comments:
Post a Comment